Minggu, 29 Desember 2013

Contoh Sinopsis Novel dan Analisis Penokohan serta Nilai Pendidikan yang Terkandung dalam Novel.



Tugas Analisis Novel
Kajian Prosa dan Fiksi Bahasa Indonesia
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universtas Muhammadiyah Tangerang
Nama : Eka Rahma Fitri
NPM : 1288.201.143
Semester III – A.2
Judul               : Anak-anak Angin
Pengarang       : Bayu Adi Persada
Penerbit           : PlotPoint
Tahun Terbit    : 2013
Tebal               : 271 Halaman

Sinopsis Novel
            Bayu Adi Persada, laki-laki lulusan Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Informatika. Mencoba mendaftarkan diri menjadi bagian dari Pengajar Muda, suatu gerakan yang di cetuskan oleh Anies Baswedan dalam yayasan Indonesia Mengajar.
            Suatu malam, ketika Bayu ingin memberitahu kepada Bapaknya bahwa ia telah diterima bekerja sebagai pengajar muda, ia merasa takut karena ia tahu pasti bapaknya akan melarangnya untuk bekerja menjadi pengajar di daerah pelosok, alhasil benar dugaan Bayu, saat makan malam ia mencoba berbicara pada Bapaknya, dan ternyata Bapaknya melarang keras keputusannya untuk mengajar di daerah pelosok. Namun, karena ia memiliki tekad yang kuat, ia tetap menjalankan niatnya untuk mengajar meskipun tidak diizinkan oleh Bapaknya.
            Email pemberitahuan karantina Pengajar Muda telah sampai dalam email Bayu, setelah kurang lebih dua bulan menerima email tersebut, ia mulai masuk karantina, disana ia di bina bagaimana menjadi guru yang baik dan disiplin untuk menerapkan ilmu pada murid-muridnya di pelosok nanti. Tiba saatnya pemberitahuan penempatan mengajar, ia mendapatkan tempat di Sekolah Dasar, Desa Bibinoi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Saat pelepasan kepergian Pengajar Muda di Bandara, ia dan kawan-kawannya yang lain menitikkan air mata saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
            Tiba di tempat tujuan, Bayu di sambut oleh Kepala Sekolah SDN Bibinoi, Pak Adin. Selama penempatan mengajar disana, Bayu tinggal bersama keluarga Pak Adin di rumahnya. Istri dan anak-anak Pak Adin menyambutnya dengan baik.
            Keesokan harinya, Bayu mulai datang ke SD tempat ia mengajar selama satu tahun kedepan, disana ia di perkenalkan langsung oleh Pak Adin saat apel pagi. Bayu di amanatkan untuk menjadi guru wali kelas di kelas tiga. Saat memasuki ruang kelas, semua murid kelas tiga sangat antusias menyambut kedatangannya, meskipun mereka sempat memandang Bayu dengan penuh tanya, tapi Bayu dapat mencairkan suasana menjadi hangat.
            Hari-hari mengajarnya terlewati dengan antusiasme murid-muridnya dalam kelas. Namun semakin hari, beberapa murid semakin menunjukkan sikap asli mereka saat didalam kelas, sampai suatu hari ia mengeluarkan dua anak muridnya dari dalam kelas karena kenakalannya.
            Disana, ia merasakan betul bagaimana perbedaan cara pandang masyarakat sana tentang pendidikan,  lain halnya dengan Kota-kota besar yang ada di Pulau Jawa, disana mereka hanya memandang bahwa pendidikan hanya sekedar bisa membaca dan menulis saja, tidak lebih. Sampai suatu hari, ia menemukan murid yang ia kagumi, Munarsi. Murid yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
            Tinggal disana, mulai terasa perbedaannya. Banyak sekali kejadian yang ia rasakan, mulai dari tidak bisa tidur karena tetangga Pak Adin menyalakan musik yang amat keras di malam hari di saat waktunya orang-orang beristirahat, sampai merasakan kehilangan uang yang dititipkan dari Yayasan kepadanya untuk biaya fasilitas Desa.
            Suatu hari, Bayu jatuh sakit. Sampai akhirnya ia harus memeriksakan diri di Puskesmas dengan ditemani oleh hampir setengah dari murid dikelasnya, mungkin hal itu termasuk wujud kepedulian murid terhadap gurunya.
            Hari yang ditunggu tiba, Bayu dengan Pengajar Muda yang lain mempersiapkan program penting Indonesia Mengajar yaitu Olimpiade Sains Kuark Nasional, semua Pengajar Muda menjadi panitia dalam acara ini. Semua pengajar menunjukkan keberhasilan mengjarnya lewat acara ini, SD Bibinoi tempat Bayu mengajar mengirim dua tim untuk olimpiade tersebut. Meskipun banyaknya hambatan saat keberangkatan menuju tempat pelaksanaan lomba, namun pelaksanaannya berjalan dengan lancar, saat pelaksanaan olimpiade Bayu bangga pada murid-muridnya.
            Pengumuman semifinal Olimpiade Sains Kuark Nasional tiba dalam email Bayu, kabar baik datang untuk SDN Bibinoi, karena dua murid sekolah tersebut masuk ke babak semifinal, betapa bangganya ia pada murid-muridnya terserbut. Tak lama, ia mendapatkan satu pesan masuk  di Handphone dari Bapaknya, yang bertuliskan bahwa Bapaknya merasa bangga dengan keberhasilannya.
            Ujian Nasional untuk Madrasah Aliyah tiba, jadwal waktu belajar mulai bertambah. Murid kelas tiga Aliyah berdatangan kerumah untuk belajar tambahan. Namun, hal itu menjadi sia-sia saat Bayu mengetahui bahwa saat pelaksanaan Ujian Nasional sekolah tersebut didapati kecurangan saat UN berlangsung, ternyata semua murid diberikan kunci jawaban pada saat UN berlangsung. Rasa kecewa itu menyelimuti Bayu.
            Tiba saatnya Ujian Nasioanl Sekolah Dasar, Bayu mengusulkan kepada kepala sekolah untuk tidak melakukan kecurangan. Kepala sekolah mengikuti usul bayu, pada akhirnya SDN Bibinoi melaksanakan UN dengan jujur.
            Hari-hari terasa berjalan cepat, sekitar sebulan setelah pelaksanaan UN berlangsung, Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera datang ke SDN Bibinoi untuk mengadakan pemeriksaan terkait isu penggelapan dana BOS di SD tersebut, dan ternyata benar, Pak Adin selaku Kepala Sekolah di SD tersebut menjadi tersangka dalam penggelapan dana, namun masalah tersebut bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan, Pak Adin tidak di turunkan dari jabatannya, beliau sudah berjanji akan memimpin sekolah dengan baik, dan semua guru harus memiliki sikap terbuka.
            Sebelum waktu kepulangan tim Pengajar Muda tiba, Bayu  mendirikan Rumah Belajar Bibinoi dari dana hasil pemberian Bapaknya. Masyarakat disana sangat senang saat peresmian Rumah Belajar tersebut.
            Tiba waktunya Bayu dan tim Pengajar Muda lain untuk meninggalkan  tempat bertugasnya, semua masyarakat berdatangan ke rumah Pak Adin untuk sekedar bertemu Bayu memberikan salam perpisahan, beberapa murid ikut meramaikan suasana di rumah Pak Adin. Bayu dan tim PM lain mulai pamit pada masyarakat setempat, hampir semua masyarakat mengantar Bayu sampai ke tepi laut, raut muka mereka terlihat bersedih, begitu pun Bayu. Bayu segera menaiki kapal, tak lama kapal mulai melaju, hampir seluruh warga melampaikan tangan mengisyaratkan salam perpisahan padanya.


Analisis
·         Unsur Instrinsik :
-           Tokoh dan Penokohan :
v  Bayu          :
ü  Memiliki tekad yang kuat.
“Aku langsung meninggalkan meja makan dan langsung ke kamar. Hati memang kecewa tapi tekad sudah membulat. Aku tak akan mundur. Kalau perlu, aku tetap akan pergi meski hanya mendapatkan setengah restu dari Ibu saja.” (hal. 3)
“Aku ingin membuktikan kepada Bapak bahwa keputusan yang kuambila adalah yang terbaik. Bukan sekarang. Nanti suatu saat, Bapak pasti akan bangga. Pasti”. (hal. 8)
ü  Tegas
“Pagi itu mereka (dua murid yang nakal) makan di kelas. Sudah kuperingatkan beberapa kali, tapi mereka mengulangi. Mau tak mau, demi menanamkan contoh untuk murid lain, aku mengeluarkan mereka”. (hal. 28)
“Aku sadar sebagai guru yang baik hati, bahkan terlalu lembut oleh kebanyakan murid. Aku benar-benar tak bisa berbuat kasar. Paling mentok, ya berkata tegas dengan nada suara yang keras. Banyak murid yang mengerti dengan cara seperti itu sehingga aku masih percaya cara itu ampuh” (hal. 74)
ü  Sabar
“Setelah gerombolan kuping karet, muncul kejadian mistis telur dan botol. Ada-ada saja cobaan yang datang silih berganti. Aku sungguh tak sungkan menjalankan cobaan satu persatu, tapi tidak sekaligus seperti ini—andai bisa memilih. Namun, setelah semua yang terjadi, aku percaya pasti ada rencana besar untukku kali ini” (hal. 56)
“Tantangan terbesarku adalah menghadapi kebosanan. Senjata utamanya tentu saja perangkat-perangkat elektronik. Bila listrik mati, film tak bisa ditonton, music tak bisa di dengar, permainan di hape jadi tak berguna.” (hal. 58)
“Aku pasrah saja kalau sudah mendengar deru angin. Hanya tinggal menunggu waktu hingga lampu tak bisa lagi menyala dan laptop tak lagi mampu mengisi bahan bakar. Inilah yang terjadi sekarang”. (hal. 59)

·         Unsur Ekstrinstik
-          Nilai Pendidikan.
Cuplikan:
“Bagi kebanyakan anggota masyarakat di sini, makna pendidikan hanya sebatas membaca dan menulis. Tak lebih. Ketika anak sudah lulus sekolah dasar dan orangtua mendapati anak mereka sudah lancar membaca dan menulis, banyak orangtua sudah bangga. Ilmu pengetahuan itu urusan nanti, yang penting anak bisa bantu-bantu orangtua dengan dua kemampuan dasar paling dasyat sedunia itu. Toh ujian masuk SMP pun hanya membaca dan menulis.” (hal. 34)
Nilai pendidikan yang terkandung pada cuplilakn tersebut adalah, bahwa masyarakat disana tak seperti masyarakat di kota-kota besar pada umumnya yang mementingkan pendidikan dan ilmu pengetahuan, masyarakan sana hanya berpikiran bahwa pendidikan hanya sekedar bisa membaca dan menulis, tidak lebih.
Cuplikan :
      “Pak Adin bercerita bahwa dalam pelaksanaan ujian nasional yang sudah-sudah memang ada kecurangan dari pihak sekolah dengan mengganti jawaban peserta ujian. Menurutnya, jika tidak dibantu, kemungkinan mereka lulus amat kecil. Sekolah membuat kunci jawaban sendiri yang kemudian digunakan untuk membenarkan jawaban anak-anak. Dalam pikiranku, ini tidak separah yang ditemui di Madrasah Aliyah. Setidaknya murid tidak dilibatkan dalam kecurangan itu.
      Namun kecurangan dalam bentuk apapun tetap saja haram dilakukan. Aku mencoba mengambil rasional dari pikiran beliau tentang bantuan dalam Ujian Sekolah tiga minggu yang lalu. Bantuan yang diberikan sekolah sudah lebih dari cukup untuk membantu siswa-siswa. Bayangkan saja, seminggu penuh ujian tertulis dan praktik hanya dijadikan formalitas. Nilai asli tidak berpengaruh sama sekali. Semua hasil nilai siswa diganti dengan nilai “suka-suka” kepala sekolah.”
      Nilai pendidikan yang terkandung pada cuplikan diatas yaitu, bahwa hampir seluruh sekolah yang ada disana selalu menggunakan kecurangan pada saat Ujian Nasional berlangsung, banyak pihak yang menyalahgunakan kunci jawaban sehingga UN hanya menjadi formalitas semata menuju kelulusan yang baik. Bayu berpikir bahwa dengan cara seperti itu sama saja membuat generasi penerus yang rusak karena kecurangan yang dilakukan, akhirnnya ia berusul kepada kepala sekolah SDN Bibinoi untuk tidak melakukan kecurangan, bahwa SD tersebut mampu menjalankan UN dengan jujur tanpa kecurangan apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar